Rabu, 14 November 2012
logo MUHI MGL
berikut ini logo yang bentuk dari 2 warna yaitu hitam dan putih. ini logo baku SMA Muhammadiyah 1 Magelang atao lebih dikenal MUHI MGL.
walaupun logo ini dah berganti-ganti sebelumnya, akhir dari logo yang
digunakan sampai sekarang yang seperti ini. padahal MUHI dah berdiri
dari tahun 1976, tepatnya 12 Januari 1976.
logo SMA Muhammadiyah 1 Kota Magelang
ini logo baku SMA Muhammadiyah 1 Magelang atao lebih dikenal MUHI MGL. walaupun logo ini dah berganti-ganti sebelumnya, akhir dari logo yang digunakan sampai sekarang yang seperti ini. padahal MUHI dah berdiri dari tahun 1976, tepatnya 12 Januari 1976.
logo majelis dikdasmen PD Muhammadiyah
ini adalah logo majelis Pendidikan dasar dan menengah di lingkungan Muhammadiyah, ini adalah logo yang berbentuk baku. digunakan dari pusat sampai ranting
Kamis, 18 Oktober 2012
Rabu, 17 Oktober 2012
hubungan kenakalan anak dengan porsi tidur anak
Jakarta, Jangankan anak-anak, orang dewasa yang kurang
tidur saja berisiko tinggi mengalami sejumlah gangguan perilaku dan
kesehatan. Itulah mengapa sebuah studi baru dari Kanada mengungkapkan
bahwa anak-anak perlu diberi jam tidur tambahan agar perilakunya dapat
dikendalikan.
Menurut studi yang dipublikasikan dalam jurnal Pediatrics ini, anak yang diberi jam tidur tambahan sebanyak 27 menit di malam hari akan menunjukkan perbedaan perilaku yang signifikan di sekolah. Anak-anak yang diberi jam tidur tambahan ini pun emosinya terlihat lebih stabil, tidak mudah gelisah dan tak terlalu impulsif.
Fenomena kurangnya jam tidur anak telah lama lama menjadi perhatian berbagai pihak. Bahkan dalam sebuah studi dipaparkan bahwa anak-anak kehilangan jam tidur rata-rata 0,073 menit pertahunnya dalam kurun waktu 1897-2009.
Studi lain juga menekankan bahwa anak yang kurang tidur akan mempengaruhi performa akademisnya. Ada juga beberapa studi yang menemukan bahwa kurang tidur membuat anak cenderung terserang gangguan kesehatan tertentu. Salah satunya mengatakan bahwa anak yang tak bisa tidur karena pernafasannya terganggu cenderung berperilaku lebih agresif.
Lagipula menurut berbagai studi dan survei ditemukan bahwa 43 persen anak laki-laki berusia 10-11 tahun tak memperoleh durasi tidur yang direkomendasikan para pakar setiap malamnya. Sebagian besar anak laki-laki dan perempuan yang terlibat dalam studi dan survei ini rata-rata jarang berangkat tidur sekitar pukul 9 malam.
Salah satu penyebab kurangnya durasi tidur anak adalah penggunaan peralatan elektronik, terutama pada remaja. Menurut sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal Applied Ergonomics, peralatan elektronik ini membuat Anda berkenan untuk berbaring tapi tak bisa tidur.
Pasalnya, cahaya khusus yang dipakai berbagai layar alat elektronik dapat mempengaruhi hormon melatonin (hormon yang berfungsi untuk mengembalikan jam biologis manusia) di malam hari dan mengakibatkan tidur menjadi tertunda.
Oleh karena itu tim peneliti dari McGill University, Montreal, Kanada yang dipimpin oleh Reut Gruber, PhD melibatkan 34 anak sehat berusia 7-11 tahun untuk mengetahi pengaruh durasi tidur terhadap perilaku anak.
Lalu peneliti membagi 34 partisipan menjadi dua kelompok. Kelompok pertama diminta tidur satu jam lebih lama dari biasanya selama lima malam, sedangkan kelompok kedua diminta tidur kurang dari satu jam dari biasanya selama lima malam.
Kesemua partisipan tidak diijinkan tidur siang. Kebetulan seluruh partisipan diketahui tak memiliki gangguan tidur, gangguan akademik maupun gangguan perilaku.
Hasilnya, kelompok pertama memperoleh rata-rata jam tidur tambahan sebanyak 27 menit, sebaliknya kelompok kedua tidur 54 menit lebih sedikit ketimbang hari-hari biasanya.
Tentu saja keesokan harinya partisipan yang tidur kurang dari sejam terlihat lebih mengantuk daripada biasanya. Partisipan ini juga dilaporkan mengalami lebih banyak gangguan perilaku di sekolah daripada sebelum studi ini dilakukan. Gangguan perilaku yang dimaksud adalah tidak stabil, mudah gelisah dan impulsif.
"Tidur yang sehat itu penting untuk mendukung tingkat kewaspadaan dan fungsi organ kunci lainnya yang dibutuhkan untuk keberhasilan akademik seorang anak. Makanya tidur harus diprioritaskan dan gangguan tidur harus dihilangkan," simpul peneliti seperti dilansir dari medicalnewstoday, Selasa (16/10/2012).
Menurut studi yang dipublikasikan dalam jurnal Pediatrics ini, anak yang diberi jam tidur tambahan sebanyak 27 menit di malam hari akan menunjukkan perbedaan perilaku yang signifikan di sekolah. Anak-anak yang diberi jam tidur tambahan ini pun emosinya terlihat lebih stabil, tidak mudah gelisah dan tak terlalu impulsif.
Fenomena kurangnya jam tidur anak telah lama lama menjadi perhatian berbagai pihak. Bahkan dalam sebuah studi dipaparkan bahwa anak-anak kehilangan jam tidur rata-rata 0,073 menit pertahunnya dalam kurun waktu 1897-2009.
Studi lain juga menekankan bahwa anak yang kurang tidur akan mempengaruhi performa akademisnya. Ada juga beberapa studi yang menemukan bahwa kurang tidur membuat anak cenderung terserang gangguan kesehatan tertentu. Salah satunya mengatakan bahwa anak yang tak bisa tidur karena pernafasannya terganggu cenderung berperilaku lebih agresif.
Lagipula menurut berbagai studi dan survei ditemukan bahwa 43 persen anak laki-laki berusia 10-11 tahun tak memperoleh durasi tidur yang direkomendasikan para pakar setiap malamnya. Sebagian besar anak laki-laki dan perempuan yang terlibat dalam studi dan survei ini rata-rata jarang berangkat tidur sekitar pukul 9 malam.
Salah satu penyebab kurangnya durasi tidur anak adalah penggunaan peralatan elektronik, terutama pada remaja. Menurut sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal Applied Ergonomics, peralatan elektronik ini membuat Anda berkenan untuk berbaring tapi tak bisa tidur.
Pasalnya, cahaya khusus yang dipakai berbagai layar alat elektronik dapat mempengaruhi hormon melatonin (hormon yang berfungsi untuk mengembalikan jam biologis manusia) di malam hari dan mengakibatkan tidur menjadi tertunda.
Oleh karena itu tim peneliti dari McGill University, Montreal, Kanada yang dipimpin oleh Reut Gruber, PhD melibatkan 34 anak sehat berusia 7-11 tahun untuk mengetahi pengaruh durasi tidur terhadap perilaku anak.
Lalu peneliti membagi 34 partisipan menjadi dua kelompok. Kelompok pertama diminta tidur satu jam lebih lama dari biasanya selama lima malam, sedangkan kelompok kedua diminta tidur kurang dari satu jam dari biasanya selama lima malam.
Kesemua partisipan tidak diijinkan tidur siang. Kebetulan seluruh partisipan diketahui tak memiliki gangguan tidur, gangguan akademik maupun gangguan perilaku.
Hasilnya, kelompok pertama memperoleh rata-rata jam tidur tambahan sebanyak 27 menit, sebaliknya kelompok kedua tidur 54 menit lebih sedikit ketimbang hari-hari biasanya.
Tentu saja keesokan harinya partisipan yang tidur kurang dari sejam terlihat lebih mengantuk daripada biasanya. Partisipan ini juga dilaporkan mengalami lebih banyak gangguan perilaku di sekolah daripada sebelum studi ini dilakukan. Gangguan perilaku yang dimaksud adalah tidak stabil, mudah gelisah dan impulsif.
"Tidur yang sehat itu penting untuk mendukung tingkat kewaspadaan dan fungsi organ kunci lainnya yang dibutuhkan untuk keberhasilan akademik seorang anak. Makanya tidur harus diprioritaskan dan gangguan tidur harus dihilangkan," simpul peneliti seperti dilansir dari medicalnewstoday, Selasa (16/10/2012).
4 tahun adalah masa "Gold Age"
Jakarta, Kebiasaan senang membaca buku sebaiknya memang
sudah dilakukan sejak masih kanak-kanak. Jika anak sudah diperkenalkan
membaca buku sejak usia 4 tahun bisa mempercepat perkembangan otaknya.
Studi yang dilakukan peneliti dari University of Pennsylvania menemukan anak-anak yang sudah diperkenalkan dengan buku sejak usia 4 tahun akan membuat bagian dari otak yang terlibat dalam bahasa dan pemikiran berkembang lebih cepat.
Namun jika buku-buku ini baru diperkenalkan ketika berusia 8 tahun maka dampak atau manfaat yang bisa didapatkan otak menjadi lebih kecil. Ini menunjukkan usia 4 tahun adalah waktu kritis dalam perkembangannya.
Dalam studi ini melibatkan 64 anak dari orangtua yang memiliki status sosio-ekonomi sama. Anak-anak ini diamati saat berusia 4 tahun dan juga 8 tahun. Sekitar 15 tahun setelah kunjungan pertama, anak-anak ini menjalani scan otak.
Para peneliti menemukan anak-anak yang menda akses ke buku dan mainan yang mendidik sejak usia 4 tahun memiliki bagian otak yang lebih tipis. Kondisi ini menunjukkan hal yang baik dalam perkembangannya.
Efek yang paling terlihat terutama di wilayah yang disebut dengan lateral left temporal cortex, letaknya dekat dengan permukaan otak dan berada tepat di atas telinga. Bagian otak ini memainkan peran dalam hal bahasa dan pikiran.
"Dalam proses pematangan otak selama masa kanak-kanak dan dewasa, korteks akan menjadi lebih tipis," ujar peneliti Martha, seperti dikutip dari Medindia, Selasa (16/10/2012).
Martha menuturkan studi ini menemukan rangsangan yang lebih kognitif dalam hal menipiskan korteks. Hasil studi yang dilaporkan dalam konferensi tahunan Society for Neuroscience di New Orleans ini mengungkapkan hal ini juga mempercepat proses pembangunan normal.
Studi yang dilakukan peneliti dari University of Pennsylvania menemukan anak-anak yang sudah diperkenalkan dengan buku sejak usia 4 tahun akan membuat bagian dari otak yang terlibat dalam bahasa dan pemikiran berkembang lebih cepat.
Namun jika buku-buku ini baru diperkenalkan ketika berusia 8 tahun maka dampak atau manfaat yang bisa didapatkan otak menjadi lebih kecil. Ini menunjukkan usia 4 tahun adalah waktu kritis dalam perkembangannya.
Dalam studi ini melibatkan 64 anak dari orangtua yang memiliki status sosio-ekonomi sama. Anak-anak ini diamati saat berusia 4 tahun dan juga 8 tahun. Sekitar 15 tahun setelah kunjungan pertama, anak-anak ini menjalani scan otak.
Para peneliti menemukan anak-anak yang menda akses ke buku dan mainan yang mendidik sejak usia 4 tahun memiliki bagian otak yang lebih tipis. Kondisi ini menunjukkan hal yang baik dalam perkembangannya.
Efek yang paling terlihat terutama di wilayah yang disebut dengan lateral left temporal cortex, letaknya dekat dengan permukaan otak dan berada tepat di atas telinga. Bagian otak ini memainkan peran dalam hal bahasa dan pikiran.
"Dalam proses pematangan otak selama masa kanak-kanak dan dewasa, korteks akan menjadi lebih tipis," ujar peneliti Martha, seperti dikutip dari Medindia, Selasa (16/10/2012).
Martha menuturkan studi ini menemukan rangsangan yang lebih kognitif dalam hal menipiskan korteks. Hasil studi yang dilaporkan dalam konferensi tahunan Society for Neuroscience di New Orleans ini mengungkapkan hal ini juga mempercepat proses pembangunan normal.
Langganan:
Postingan (Atom)


